Friday, February 06, 2009

Tour of The Java Land 3 - Kota Semarang



Nah, setelah Tour of The Java Land part 1 dan part 2 berakhir, kali ini Penulis akan menceritakan Tour of The Java Land Part 3, yaitu ke kota Semarang. Kota terbesar ke-empat di Indonesia ini (benar gak ya, pokoknya setelah Jakarta, Surabaya, Medan) berada di pantai utara Pulau Jawa. Penduduk disini mayoritas suku Jawa, tetapi ada yang unik, bahwa kota ini merupakan kota dimana komunitas Tionghoa banyak bermukim dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia.





Tidak jauh dari Kawasan Simpang Lima, Kardoman melanjutkan ke Lawang Sewu, suatu bangunan tua bekas Stasiun Kereta Api (pada zaman penjajahan Belanda) dan diubah menjadi tempat penyiksaan dan penyanderaan(pada jaman penjajahan Jepang). Lawang Sewu ini kalo tidak salah dibangun pada tahun 1904, sekitar dua ratus tahun yang lalu. Kardoman berkesempatan mengelilingi seluruh sisi bangunan tua tersebut dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000,- ditemani guide yang dibayar secara sukarela. Lawang Sewu ini artinya seribu pintu, karena memang bangunan tersebut satu kamar saja terdiri dari 6-8 pintu, hitung saja dengan kamar yang jumlahnya ratusan. Lawang Sewu ini terkenal sangat angker, tetapi pesonanya tidak sedemikian sehingga beberapa bagian dari film termasyur Ayat-Ayat Cinta mengambil shooting disini.





Setelah berkeliling Kawasan Simpang Lima Semarang yang merupakan jantung kota Semarang, maka Kardoman melanjutkan perjalanan ke Pura Agung Giri Natha yang terletak diatas bukit. Dari pura ini, Penulis dapat melihat seluruh kota Semarang bahkan sampai melihat Laut Jawa di utara Semarang.




Nih Kardoman lagi di Klenteng Sam Poo Kong, dimana klenteng ini merupakan salah satu klenteng terbesar di kota ini. Indah sekali kan, Kardoman seperti lagi di negeri Cina.





Kali ini Kardoman juga keliling kampus Universitas Diponegoro, baik kampus bawah (daerah Kota) maupun kampus atas (daerah Tembalang). Universitas Diponegoro merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia juga, terutama Fakultas Hukumnya berada di posisi ke 5 setelah UGM, UI, UNPAD, dan UNAIR.





Penasaran dengan dimana Kardoman sekarang berdiri? Yups, ada di Vihara Buddhagayana Watugong, yaitu Vihara Dewi Kwan Im. Betul kan, di Semarang itu memang banyak sekali vihara, klenteng, dan sejenisnya yang menunjukkan bahwa di kota ini memang banyak sekali etnis Tionghoa bermukim.





Nah, tempat yang Penulis kunjungi juga adalah Kota Lama Semarang. Beberapa bangunan tua peninggalan zaman Belanda banyak terdapat disini. Seru juga deh, buat foto-foto, lagian di daerah ini sering dijadikan lokasi shooting film, misalnya Film Gie. Udah pada nonton belum?? Ini adalah Gereja Blenduk, gereja dengan arsitek Belanda yang sangat khas dan banyak di kunjungi wisatawan di Semarang.

2 comments:

Anonymous said...

kata siapa ya UNDIP nomer 5? dan kenapa 5 teratas FH Univ Negeri semua? Rasanya law firm besar di jakarta carinya kalo nga UI ya UNPAR (universitas katolik parahyangan).. jarang thu malah yang cari UNAIR atau UNDIP

Kardoman Tumangger said...

@ Anonim: Tapi penilaian kita tidak hanya lulusan yang dicari law firm, tetapi banyak juga aspek lainnya misalnya alumni, fasilitas, sistem pengajaran, jurnal, rasio dosen dan murid, ketat tidaknya persaingan masuk dan penilaian subjektif juga. Hehhe