Thursday, November 05, 2009

Tour of Sunda Land Part 3 - Kampung Adat Cikondang














Jalan Masuk Kampung Cikondang, Jalan Bandung-Pangalengan. Apabila dari Bandung, dapat menumpang elf jurusan Pangalengan dari terminal Leuwi Panjang dengan ongkos sekitar Rp 4000- Rp 6000 saja. Dan dapat berhenti di penunjuk arah ini. Apabila tidak kuat berjalan kaki, dapat menumpang ojek dengan  harga yang dapat ditawar. 
















Kami memilih berjalan kaki, karena sambil berjalan kaki ada banyak keindahan alam yang dapat kami nikmati. Misalnya saja suasana agraris di pedesaan di Kampung Cikondang, yaitu sawah-sawah yang terhampar luas dan sangat indah. Udara yang sangat sejuk, ingin rasanya menghirup semuanya, sepuasnya..















Nah, tibalah rombongan di rumah kepala adat (kuncen) Kampung Adat Cikondang.  Kardoman dan Fristi berfoto bersama kepala adat (kuncen) Kampung Cikondang di Rumah Adat Kampung Cikondang. Mereka sangat ramah menerima setiap kunjungan wisatawan.















Kardoman dan Idah di dinding Rumah Adat Kampung Cikondang yang telah berusia lebih dari 300 tahun. Hebat bener yah dinding bambu ini. Rumah adat ini pernah suatu kali kebakaran, tetapi dinding bambu ini tidak terkena. Dinding bambu ini adalah satu-satunya warisan abadi dari Kampung Cikondang ini.



Setelah puas menanyakan banyak hal kepada kuncen, kami juga diantar melihat makam keramat yang biasanya dikunjungi oleh orang-orang untuk berziarah pada waktu-waktu tertentu untuk mendapatkan rezeki, jodoh, atau penyelesaian permasalahan hidup lainnya. Disini ada beberapa larangan yang masih ketat dipertahankan. Misalnya apabila buang air kecil, tidak boleh menghadap utara (makam keramat & hutan keramat). Tidak boleh menggunakan listrik, tidak boleh menggunakan barang pecah belah untuk keperluan dapur, dll. Unik juga ya..


Pemandangan alam yang indah yang dapat disaksikan setelah melihat Kampung Adat Cikondang. Meskipun capek, tapi semuanya terbayar lunas...

2 comments:

ardita said...

wah..........udaranya sejuk membuat suasana semakin tenang.

Kardoman Tumangger said...

@ Ardita: Bener banget, ngapain jauh2 menjelajah negeri orang, negeri sendiri saja belum dijalani. Heheh