Thursday, May 09, 2013

Antara Film “9 Summers 10 Autumns” dan Kisah Hidupku

Novel yang berjudul “9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple” karya Iwan Setyawan setelah menjadi National Best Seller akhirnya diangkat menjadi film. Film “9 Summer 10 Autumns” yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah sudah ditayangkan secara serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 25 April 2013. Film ini dibintangi Ihsan Tarore sebagai Iwan (“Bayek”), Alex Komang, Dira Sugandi dan Dewi Irawan.


Film ini bercerita kisah hidup Iwan Setyawan, anak sopir angkutan umum asal Batu, Malang. Keterbatasan ekonomi tak menyurutkan niat Iwan meraih pendidikan tinggi. Ia berjuang keras untuk bersekolah hingga kuliah jurusan statistik di Institut Pertanian Bogor (IPB). Hidup di rumah kecil tanpa memiliki kamar, memotivasinya untuk memiliki kamar sendiri. Usai menuntaskan pendidikan tinggi di IPB sebagai lulusan terbaik, ia bekerja selama 3 tahun di Jakarta. Anak lelaki dari lima bersaudara ini berhasil mencapai puncak karir sebagai Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research di New York. Namun, ia justru memilih kembali ke kampung halaman di Batu.

Penulis akhirnya menonton film ini tanggal 07 Mei 2013 di XXI Pondok Indah Mall. Bersama dua rekan Penulis yang bersama-sama sedang mengikuti pelatihan di Pertamina Learning Center Simprug, kami menyempatkan diri menonton film ini. Sudah lama sebenarnya Penulis ingin menonton film ini setelah membaca novel Iwan yang berjudul “Ibuk”, atas rekomendasi teman dari Surabaya yang mengatakan cerita novel ini hampir mirip dengan cerita hidup Penulis. Merasa penasaran, akhirnya novel tersebut selesai penulis baca.

Sedikit banyak memang perjalanan hidup Iwan sama dengan Penulis, lahir dan besar di keluarga miskin dan harus berjuang keras untuk  mencapai cita-cita. Sebenarnya Ibu Penulis jauh lebih hebat, melahirkan dan membesarkan 10 orang anak. Pendidikan bapak dan ibu Penulis yang tidak lulus SD membuat tidak ada pilihan dalam mencari kerja selain sebagai buruh tani. Namun, ditengah keterbatasan tersebut, Penulis tidak mau patah semangat dan menyerah dalam mengejar cita-cita. Demikian juga dengan didikan Bapak (Alm) yang agak keras, sehingga Penulis menjadi lebih dekat dengan Ibu. Penulis juga dibesarkan bersama dengan 4 saudara perempuan (kebetulan 5 saudara lainnya telah menikah atau merantau) dan sulit berteman dengan anak laki-laki lainnya. Dengan perjuangan yang luar biasa dari bapak dan ibu serta seluruh saudara Penulis, serta para donatur akhirnya Penulis lulus sebagai lulusan terbaik dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran pada tahun 2010. Cerita mengenai perjuangan Penulis dalam mencapai ini telah dituangkan dalam tulisan Surat untuk Mama.

Pada saat menonton film ini atau membaca novel sebelumnya, Penulis sering menitikkan air mata karena merasakan hal yang sama dengan isi novel/film tersebut. Penulis merasa seperti ada flashback ke kehidupan lampau. Hanya saja satu hal yang Penulis sayangkan, bapak telah dipanggil Tuhan ketika Penulis hendak menyelesaikan pendidikan tinggi. Semua jerih payah bapak belum pernah Penulis balas hingga akhir hidupnya. Kisah ini sedikit berbeda dengan kisah Iwan, dimana dia masih sempat membahagiakan bapak dan ibunya. Dan satu perbedaan lagi antara kisah Penulis dengan kisah Iwan adalah, Iwan telah menginjakkan kaki di New York dan bahkan bekerja selama 10 tahun disana setelah bekerja 3 tahun di Jakarta. Inilah yang masih menjadi cita-cita Penulis, tinggal atau bekerja di New York, kota impian, untuk jangka waktu beberapa tahun. Semoga dapat dicapai. Amin..

Bahwa kemiskinan dan keterbatasan bukanlah alasan untuk tidak mau mencapai cita-cita. Ada sebuah kalimat yang sangat luar biasa dari Donald Trump, seorang pengusaha sukses asal Amerika, ia berkata “Lahir miskin bukan salah anda, tapi mati miskin itu kesalahan anda”. Kalimat ini membuat saya berkata dalam hati “saya tidak mau mati dalam keadaan miskin meskipun saya terlahir miskin“. Semoga kisah Iwan maupun kisah Penulis dapat menginspirasi banyak orang Indonesia.

No comments: