Monday, July 02, 2012

Surat untuk Mama: Sebuah Kisah Hidup Menggapai Cita-cita

Jakarta, 1 July 2012
Mama yang kurindukan,
Surat ini kutulis bukan untuk kukirim padamu. Karena saat surat ini kutulis, memang aku sudah tidak pernah mengirim surat lagi untukmu. Selain dengan adanya handphone yang memudahkan kita untuk saling melepas rindu, aku juga semakin sibuk dan tidak ada lagi keinginan untuk menulis surat. Dulu mama pasti selalu menantikan suratku dari Bandung ketika aku masih kuliah, dan Mama pasti sangat sangat senang ketika surat itu dibacakan. Dan sebagaimana ceritamu dulu padaku, Papa pasti akan membaca suratku berkali-kali, seakan-akan ada kebahagiaan dimatanya ketika membaca surat-suratku. Juga Mama dan Papa selalu menyimpan rapi semua surat yang pernah kukirimkan. Hal itu kuketahui ketika aku pulang sewaktu Papa meninggal tiga tahun yang lalu. Sayang Papa tidak pernah bertemu dengan anaknya yang sangat dibanggakannya. Terakhir kali dia melihatku, ketika mengantarku ke gang rumah kita, sebelum aku berangkat ke Medan dan terbang ke Jakarta tujuh tahun lalu. Ntah mengapa, Papa yang biasanya paling tegar dan keras pendiriannya dalam keluarga kita, seakan-akan tahu bahwa itu adalah pertemuan terakhirnya denganku, dia meneteskan air mata saat dia memelukku erat. Tidak pernah Papa memeluk anaknya. Dia memang sedikit dingin. Tapi dia adalah Papa terbaik di dunia. Dia kemudian membelakangiku dan mengusap air matanya, seolah-olah tidak mampu melihat kepergianku. Saat itu aku tidak tahu apa makna semua itu.

Mama yang kurindukan,
Aku lihat beberapa keluarga besar kita ikut mengantar kepergianku, juga ada sejumlah tetangga. Bahkan beberapa diantara mereka menitipkan sejumlah uang, katanya untuk jajan di perjalanan. Tak terungkapkan betapa haru biru perasaanku saat itu. Aku akan kuliah di Bandung!!! Seakan-akan masih dalam mimpi dan semuanya begitu cepat. Aku menerima pesan singkat dari teman di Medan pada malam hari: “Kamu lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru.”
Keesokan harinya aku berangkat ke kota, membeli koran dan menemukan namaku disana. Tak sabar menanti kepulanganmu dari sawah ladang kita, dan ketika kulihat engkau kelelahan pulang bekerja, aku langsung berkata: “Ma, aku lulus!” Dan kulihat wajah polosmu berkata: “ Apa artinya itu?” Akupun menjawab lemah: “Aku bisa kuliah di Bandung, Ma.” Dan Mama hanya menunduk lesu, seribu satu pikiran mungkin berkecamuk di benakmu. Matamu berkaca-kaca dan hanya mampu berkata: “Kita orang miskin nak, kita tidak ada uang untuk kamu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.” Kurengkuh badanmu yang kurus dan sudah mulai renta: “Ma, yang penting aku bisa membuktikan kalau aku bisa lulus dan berhak kuliah. Sekalipun aku tidak akan kuliah, itu tidak akan menjadi masalah besar bagiku.” Begitulah perbincangan itu berlangsung di malam itu.

Mama yang kurindukan,
Di luar perkiraan kita, sahabat baikku menanyakan apakah aku lulus dan kujawab iya. Dia juga berkata akan membantu berbicara dengan mama dan papanya untuk menolongku menggapai cita-cita. Ingatkah kau Ma, pagi-pagi sekali kita melewati semak-semak, rumput ilalang dan kebun orang demi bertemu dengan papa sahabatku itu. Embun pagi hari juga belum kering dari dedaunan, tetapi semangatmu sungguh luar biasa. Bahkan itu kita lakukan hanya karena kita tidak ada uang untuk ongkos angkutan umum yang hanya dua lembar ribuan pada waktu itu. Setelah bertemu dengan papanya, kita kebingungan ketika dia menanyakan, “rencana kalian selanjutnya apa?”. Kita juga disuruh ke rumah salah satu temannya dan membicarakan hal ini. Ingatkah kau semua itu Ma? Kemudian kita kembali ke rumah kita, menyusuri semak, ilalang dan kebun dengan rute yang sama tanpa tahu apa rencana mereka. 

Beberapa hari kemudian, pada hari Minggu, tepat jam 10 malam, ada mobil dan motor menuju rumah kita. Seakan tidak percaya ada tamu penting karena memang keluarga kita tidak ada yang punya motor apalagi mobil, kita semua mengintip dari jendela rumah. Ya, mobil dan motor itu parkir di depan rumah kita, dan kita buru-buru membuka pintu. Dan aku seperti disambar petir, papa dan mama serta sahabatku itu masuk ke rumah dan berkata bahwa besok aku akan terbang ke Jakarta jam 11 siang. Seakan tidak percaya, tapi ini kenyataan. Tiket pesawat dan sejumlah uang sudah ada ditanganku, juga beberapa helai pakaian, dan itu tidak perlu kita bayar. Setelah mereka pulang, kita masih kebingungan. Aku buru-buru memasukkan baju-baju yang menurutku terbaik dan barang-barang perlengkapan yang kuanggap penting. Nasehatmu pada waktu itu agar kuliah dengan sebaik-baiknya di Bandung, serasa tak dapat kucerna lagi. Hatiku dipenuhi kegembiraan yang meluap-luap. Benarkah besok aku akan terbang?? Naik pesawat??

Mama yang kurindukan,
Pagi-pagi sekali kita semua bangun. Kau pilih ayam terbaik peliharaan kita dan kau masak dengan sangat baik. Makanan hari ini memang sangat berbeda dengan hari-hari biasa. Tak tampak oleh mataku sayur dan lauk pauk yang biasa kita makan. Seekor ayam dengan kenikmatan tertinggi telah tersaji. Papa dan Mama menyerahkan makanan itu diiringi doa agar aku kelak berhasil di rantau dan aku menerima secara simbolis. Setelah didoakan, kita makan dengan tergesa-gesa. Bahkan kau bungkuskan ayam dan nasi sebagai bekal dalam perjalananku yang kuketahui kemudian ketika aku telah tiba di Bandung.

Mama yang kurindukan,
Ketika mobil yang akan membawaku ke Medan telah menjemputku dari depan gang rumah kita, yang kulihat hanya derai air matamu. Seakan-akan kita tidak akan bertemu lagi. Pelukanmu terasa lain dan kau tidak pernah berhenti melambaikan tangan sampai aku tak bisa menolah lagi ke belakang. Perjalananku ke Medan kurang berjalan dengan baik. Jalur yang seharusnya ditempuh ternyata longsor beberapa jam yang lalu, sehingga harus memilih jalur lain yang lebih jauh. Karena panik dan takut akan terlambat dan ketinggalan pesawat, sesampainya di Medan aku naik taksi yang bayarannya lebih mahal dari biasanya. Mama, ini pertama kali aku naik taksi dan masuk bandara. Tak banyak yang kutahu tentang bandara. Semua serasa membingungkan. Apalagi ketika petugas mengatakan tiketku tidak valid dan butuh beberapa jam untuk mengechecknya. Akhirnya kuputuskan membeli tiket baru yang harganya lebih mahal dan berangkat beberapa jam kemudian karena besok adalah pendaftaran terakhir di kampus.

Mama yang kurindukan,
Akhirnya aku naik pesawat juga. Aku adalah orang pertama dari keluarga besar kita yang naik pesawat. Aku sangat kagum saat burung besi itu melaju. Mataku tak pernah lepas melihat ke bawah. Awalnya rumah-rumah dan jalan masih terlihat jelas, sampai yang terlihat hanya hutan yang luas dan setelah itu hanya awan putih. Aku tidak tertidur dalam perjalanan itu, Ma. Kurasakan dadaku disesaki dengan rasa kebanggaan, naik pesawat Ma. Bukankah waktu aku masih kecil, aku selalu berteriak ketika jauh di atas udara ada pesawat melintas. Dan kini, aku naik pesawat, Ma! Dua jam serasa dua puluh menit saja, Ma. Sang pilot memberi tahu bahwa pesawat akan mendarat di Bandara Sukarno Hatta. Aku pun tersentak! Aku sampai di Jakarta, Ma! Yang kulihat hanya ratusan bahkan ribuan kerlip lampu. Sungguh indah, Ma. Ketika pesawat benar-benar mendarat dan penumpang diperbolehkan turun, aku kebingungan, Ma. Sungguh mati aku bingung hendak berjalan kemana dan bagaimana dengan tasku yang kutitipkan sebelum terbang. Aku juga malu bertanya. Pasti mereka akan berpikir, “dasar udik, kampungan.” Aku pun mengikuti kemana manusia-manusia itu bergerak. Dan benar, dimana mereka menunggu, disana ada ratusan tas sedang bergerak! Aku hanya tersenyum saja Ma, mengingat itu semua.

Mama yang kurindukan,
Perjalananku ke Bandung juga tidak mudah, setelah kami naik bis ke Kampung Rambutan ditengah macetnya Jakarta, ternyata bis terakhir ke Bandung sudah berangkat. Kami pun melanjutkan ke Lebak Bulus, dan disana ada bis yang ke Bandung. Tapi bis ekonomi akan berangkat ketika penumpang sudah lumayan penuh. Tahukah Mama, macetnya Jakarta, kelelahan dan rasa laparku serasa hilang digantikan dengan pemandangan ibu kota yang sungguh mempesona. Ada ratusan gedung-gedung yang sangat tinggi disini, Ma. Jalan-jalan yang lebar, lampu-lampu jalan yang tak terhitung jumlahnya. Mataku seolah tidak bisa berkedip. Dan bis yang kami tumpangi, ada TV-nya, Ma. Bagiku itu sungguh ajaib! Tapi aku tidak bertahan lama, akhirnya aku tertidur juga, kelelahan. Perjalanan dengan bis ekonomi ini sungguh menyiksa, Ma. Panasnya sungguh luar biasa, dan hampir setiap waktu berhenti mencari penumpang. Yang kuingat hanya satu, ketika aku terbangun, kami masih di Jakarta. Bayangkan Ma, dari Jakarta ke Bandung, kami tempuh selama delapan jam. Jam empat pagi kami tiba di Bandung, lelah sungguh luar biasa.

Mama yang kurindukan,
Empat tahun satu bulan kuselesaikan kuliahku. Dan gelar sarjana hukum berhak kusandang bahkan mendapat penghargaan khusus dari pimpinan fakultas. Dengan susah payah kita kumpulkan rupiah demi rupiah agar Mama dapat melihat aku diwisuda. Dan engkau datang dengan kesahajaanmu. Wajahmu yang sudah keriput dan lelah perjalanan dari Jakarta yang dihadang macet dan lapar yang menghajar, tidak menghalangimu mengukir senyum ketika melihatku. Ingatkah Mama dengan ikan teri sambal yang sengaja kau bawa agar kita bisa berhemat selama di Bandung. Dengan beras yang sengaja kau bawa agar kita bisa memasak nasi selama di Bandung? Dengan buah tanganmu yang sangat khas itu, dimana hal itu tidak akan pernah dibawa oleh orang tua yang melihat anaknya akan diwisuda. Akh, meskipun demikian, Mama dapat melihat wajah sukacita teman-temanku menikmati buah tanganmu itu. Ingatkah kau Ma, ketika kita berjalan kaki mengitari Bandung karena kita benar-benar tidak ada ongkos, ketika teman-temanku bersama orang tuanya sedang asyik berbelanja, berkeliling melihat objek wisata dan menikmati makanan khas di kota Bandung. Sementara kita beristirahat di alun-alun ketika lelah berjalan ditemani sebungkus roti seharga empat ribuan dan sebotol Aqua 1,5 liter untuk kita bertiga, dan kau mengatakan sungguh menikmati selama berada di Bandung. Dan ketika Mama pulang, sekalipun tidak ada oleh-oleh yang kau bawa dari Bandung, engkau membawa sebuah cerita dengan penuh kebanggaan: anakku sudah sarjana. Dan mama juga bercerita kepada orang-orang ditempat Mama bekerja sebagai buruh tani betapa nikmatnya naik pesawat. Mama, hampir lupa aku kalau kita dulu sekeluarga adalah buruh tani, digaji lima belas ribu untuk bekerja sehari, dari fajar menyingsing sampai matahari terbenam, dihajar teriknya mentari dan dinginnya air hujan. Tapi kita tidak pernah mengeluh, Ma.

Mama yang kurindukan,
Lulus sarjana tidaklah membuat hidup langsung menyenangkan. Lima bulan aku menganggur, terlunta-lunta, bahkan tabunganku dari sisa uang beasiswa hanya cukup untuk tiga bulan, sebagian sudah habis untuk melamar kesana-kemari. Aku terutang sama seorang temanku, Ma. Dia membiayai hidupku selama hampir dua bulan. Dan sampai saat kini, aku belum bisa membalas kebaikannya. Ketika aku diterima bekerja, itu juga tidak dengan mudah kulalui. Kantorku di Utara sementara kosku bersama temanku itu ada di Selatan, Ma. Tiap hari aku bangun jam kurang dari jam 5 pagi, mandi dan berangkat dengan naik metro mini menuju Blok M. Kemudian menunggu busway menuju Dukuh Atas yang kadang-kadang lambat sekali berangkatnya. Di halte Dukuh Atas, aku akan transit ke halte Pramuka BPKP. Disana juga adalah siksaan dalam hal menunggu busway. Busway jurusan Tanjung Priok itu sangat lama datangnya, dan biasanya penuh sesak penumpang. Kemudian aku harus berjalan sekitar lima ratus meter lagi atau bisa naik ojek sepeda. Dari Blok M sampai ke Sunter Kelapa Gading, biasanya aku berdiri di dalam busway, Ma. Sangat sulit untuk mendapatkan tempat duduk, demikian juga pulangnya nanti. Untuk berangkat, aku biasanya menghabiskan waktu hampir dua jam, sedangkan kalau pulang ke kosan, hampir empat jam. Kemacetan yang sangat parah telah membuat jarak Sunter ke Fatmawati seperti dari Medan ke kota kita, Ma. Tiga bulan di perusahaan tersebut, aku diterima di salah satu badan usaha milik negara (BUMN). Ingatkah Mama yang sempat protes ketika gajiku 1 tahun ke depan akan turun drastis kalau aku pindah ke BUMN itu?

Mama yang kurindukan,
Hampir 1 tahun aku telah menjalani pendidikan untuk menjadi pekerja di sini. Dan dalam 23 hari lagi kita akan bertemu. Ketika aku memberitahukan hal ini, kurasakan nada suaramu gembira tak terperi ketika aku menelponmu. Aku tahu Mama pasti sangat merindukanku, demikian juga aku. Dua tahun kita tidak bertemu. Aku ingat dulu ketika aku pulang sewaktu Papa meninggal, Mama tahan berjam-jam berbicara denganku sampai tengah malam. Usiamu yang sudah lanjut serasa muda kembali ketika melihat anakmu pulang ke rumah dan ada banyak hal yang ingin Mama tanyakan dan ceritakan. Tahukah Mama, sekitar empat bulan pertama masa pendidikan, aku dan teman-teman diinapkan di asrama  setara hotel bintang tiga. Semuanya tersedia Ma, makanan yang enak-enak dan bergizi, minuman yang baik untuk kesehatan. Bahkan aku bisa makan ayam dan ikan setiap hari Ma, tidak seperti di rumah kita, yang mana itu hanya tersedia kalau ada acara istimewa saja. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali minum susu di rumah kita, seingatku sekali setahun hanya pada malam Tahun Baru. Disini ada pelayan yang membersihkan kamar, mencuci pakaian, dan tersedia juga kolam renang dan fasilitas olah raga lainnya. Beginilah rasanya tinggal di hotel, Ma. Aku bisa menonton TV, tidak seperti TV kita di rumah yang sudah tidak pernah menyala karena telah rusak bertahun-tahun. Kamar mandinya bersih, tidak seperti kita yang harus turun ke jurang hanya untuk mandi dan mengambil air untuk dijerang  dari sumur yang kurang bersih. Bahkan sumur kita itu pernah ditimbun oleh seseorang penuh dengan tanah hingga kita menggali lagi. Suatu hari Mama harus merasakan nikmatnya tinggal di hotel, suatu hari nanti.

Mama yang kurindukan,
Demikianlah surat yang tidak akan kukirimkan ini kutulis. Hal ini kulakukan hanya untuk mengenang masa-masa indah kita, yaitu masa-masa tersulit yang pernah kita hadapi. Aku tidak sabar untuk melihat wajahmu yang selalu dipenuhi senyum sekalipun ada banyak permasalahan hidup menghadang. Mama selalu merasa tidak mampu mewujudkan keinginanku, tapi Mama juga tidak pernah menghalangiku untuk mencapai mimpi dan cita-citaku. Terima kasih Mama..
Dari Putramu,

Jonathan

4 comments:

Pradana Wirabuana said...

domaaaaan eh jonathaaaaannn your letter make me cry...
i believe your mom must be very proud of you...
i also proud of you john...

Kardoman Tumangger said...

Pradana? Did you really cry? I'm wondering to see you cry.. Hehehe

Steven Wijaya said...

Benar2 terharu dan sangat inspiratif perjuangan anda bang.... semoga sukses selalu

TycoToon said...

Doman.. I am all in bloody tears!! I am pretty sure your mom (and dad) must be proud of you, and so do i!!
I remember the first time we met, and pardon me if I was like an arrogant girl and by the time went by, I know you're different with many people. You (secretly) inspired me!!