Friday, June 29, 2012

Mengampuni, Berdamai dan Batu-Batu Setan!


Central Park Mall
Kamis, 28 Juni 2012, Doman dan dua orang teman (IS & PW) mengunjungi Central Park, Jakarta Barat. Bagi kedua teman saya, itu adalah pertama kali kunjungan mereka kesana, tapi bagi saya itu adalah kunjungan saya yang kesekian kali. Central Park @ Podomoro City merupakan salah satu mall favorit saya karena menawarkan konsep yang sangat menarik. Sekalipun berdampingan dengan Mall Taman Anggrek (salah satu mall elit di Jakarta) dan Mall Ciputra (salah satu mall untuk kelas menengah) di daerah Tanjung Duren, tetapi Central Park tetap menjadi mall favorit. Dilengkapi dengan Tribeca Park, Podomoro Apartment, Agung Podomoro Land (APL) Tower, Pullman Hotel serta diisi dengan tenant-tenant terkenal (Carrefour, Gramedia, Blizt Megaplex, Zara, Mango, Starbuck, etc.), maka wajar saja mall ini menjadi salah satu mall yang wajib dikunjungi. Selain itu, mall ini merupakan mall yang paling ramah terhadap pengunjung karena menyediakan tempat duduk dalam jumlah banyak, ada musical fountain, dan konsep "Shopping Marathon" dalam waktu-waktu tertentu. Selain itu, mall ini juga sering membuat konsep-konsep tertentu yang semakin memanjakan pengunjung. Kalau hendak kesini, disarankan diluar jam keluar kantor karena macetnya sangat keterlaluan. Apabila Anda menggunakan busway, ada shelter khusus yaitu S. Parman Central Park.
Nah, kali ini Doman dan IS ingin menemani PW bertemu kenalan baru. Karena kemacetan yang tiada tara, mobil PW terpaksa kami parkirkan di Kantor Lautan Luas di Petamburan. Kemudian dilanjutkan dengan naik busway ditengah kemacetan. Setelah melewati 2 shelter, akhirnya kami tiba di Central Park. Setelah menunggu PW sholat, kami langsung memesan makanan di Solaria. Setelah itu dilanjutkan ke Gramedia dan kembali ke kosan. Sesampainya di Gambir, pertengkaran itu pun terjadi. Alasannya hanya sepele, saya tidak suka tentang keluarga saya diumbar ke orang baru, sedangkan PW tidak suka saya mengumbar tentang kekayaannya. Hahaha, dasar kami masih childish. Akhirnya kami bertengkar dan berpisah menuju kosan masing-masing.
Setelah cuci muka, saya baca Kitab Suci tentang Hal Mengampuni. Setelah lama mencari dan tidak menemukan, akhirnya saya membaca Kitab Horison Sastra Indonesia dan menemukan cerpen berjudul "Batu-Batu Setan". Disana diceritakan seorang pemuda yang tertidur kelelahan di suatu kota, dan pada saat terbangun sudah tidak ada orang di kota tersebut. Kota itu telah berubah menjadi kota mati dan sangat berbeda dengan suasana kota sebelum dia tertidur kelelahan. Ditengah keheranannya, ada seorang pria dengan mengendarai mobil meminta dia untuk naik dan segera mengikuti dia ke tengah padang dimana disana ada dua kubu yang sedang hendak baku hantam karena memperbutkan padang rumput tersebut. Dia kemudian mendamaikan mereka dan berkata, dari pada berkelahi lebih baik kita melawan batu-batu setan, yaitu dua gunung batu yang menghalangi perjalanannya menuju kota yang sangat indah, dimana disana ada padang rumput yang sangat indah dan luas. Kemudian dua kelompok yang nyaris perang saudara tersebut setuju dan membawa semua peralatan perang mereka (bom, senapan, parang, kapak, dll) dan melawan batu-batu setan itu. Yang terjadi kemudian adalah semua gerombolan orang itu terpental, terluka dan hampir seluruhnya meninggal. Kemudian pemuda tersebut keheranan dan melihat seorang yang berpakaian putih serta bertanya mengapa hal tersebut terjadi. Orang tua tersebut berkata: itu karena dua kubu yang hendak melawan batu-batu setan tersebut melawan dengan penuh dendam, angkara murka, sehingga setanlah yang menang, bukan manusia.
Forgiveness
Saya tertegun sejenak, dan teringat Firman Tuhan dalam Injil yang berkata: "Apabila kamu ingin berdoa dan memohon ampun dosamu kepada Tuhan, berdamailah dengan saudara terlebih dahulu. Kalau kamu ada kesalahan kepada saudaramu itu, mohon ampunlah sebelum matahari terbenam." Kemudian saya pada saat itu juga mengampuni teman saya tersebut, dan bertekad bahwa besok, sesudah matahari terbit, saya akan meminta maaf dan berdamai dengan sahabat saya tersebut Karena hanya dengan perdamaian dan hati yang tulus, setan dapat dikalahkan. Setan itu adalah penghalang persaudaraan dan persahabatan manusia. Pada keesokan harinya, saya mendatangi kosnya, meminta maaf, dan pada hari itu juga, kami telah akrab kembali. Berdamai itu sangat indah kawan!!

2 comments:

Pradana Wirabuana said...

bukan PW tapi WB

Kardoman Tumangger said...

Hahaha, kan kepanjangannya Pradana Wirabuana jadinya PW dong bukan WB.. Hehehe...