Monday, December 26, 2011

BPS Legal Pertamina 2011 Part 3 - Kewiraan



Berangkat Kewiraan

Ini adalah salah satu program yang paling ditakuti dan tak akan pernah dilupakan oleh siapapun dalam kehidupannya para peserta BPS Pertamina Tahun 2011 Batch I. KEWIRAAN. Yaitu suatu program pendidikan semi militer yang bertujuan untuk memberikan pembinaan mental, disiplin dan keterampilan kepada para peserta agar dapat menghadapi rintangan baik rintangan alam maupun rintangan buatan. Nama resminya adalah Kursus Pembinaan Mental, Disiplin dan Keterampilan, disingkat Susbintal, diselenggarakan atas kerja sama Pertamina dengan Performind Consultant dan Kodam III/Siliwangi. Program ini diselenggarakan dari tanggal 19 September 2011 – 15 Oktober 2011 atau lebih tepatnya 27 hari, di Sekolah Calon Tamtama Resimen Induk Militer III/Siliwangi (Secata Rindam III/Siliwangi), Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Tiba di Secata Rindam III/Siliwangi, Pangalengan

Barak Cibolang - salah satu barak putra


Here is the complete story…
Pagi hari tanggal 19/09/2011 adalah awal peristiwa ini. Kami dibagi dalam beberapa kelompok, kemudian diangkut dengan truk militer dari Simprug ke Pangalengan melewati jalan tol Cipularang dengan pengawalan ketat OPM. Sekitar 5 jam kemudian, tibalah kami di Lapangan Keras Secata. Penulis lebih suka menyebutnya Lapangan Kekerasan karena disinilah dimulainya kekerasan itu (hahahha, agak lebay dikit boleh lah ya). Dipaksa turun dengan segera dari truk kemudian berbaris dan selang beberapa menit kemudian digiring ke Kantor Komando Latihan (Kolat) dan mendapat pembagian peleton dan barak. Kemudian mendapat pembagian keperluan selama kewiraan yang jumlahnya sangat banyak. Pakaian Dinas Lapangan (PDL) 2 pasang beserta perlengkapannya, sepatu PDL 1 pasang dan kaos kaki beberapa pasang, peralatan mandi, semir sepatu & sikatnya, sandal jepit, ponco/jas hujan, ransel militer, perangkat berbivak/berkemah, dll yang harus kita jaga agar jangan sampai ada yang hilang. Kalo hilang……saya ngeri membayangkan hukumannya.

Eksekusi Pembotakan Kepala

Setelah memeriksa semua barang yang kita terima lengkap sudah, maka selanjutnya adalah eksekusi kepala yaitu pembotakan kepala hingga bener-bener botak. Ini sangat menyebalkan!! Setelah itu, kita diberikan kesempatan untuk mandi sekitar 15 menit dan kemudian berbaris menuju ruang makan. Penulis lebih suka menyebutnya Ruang Penyiksaan karena setiap kali mau makan atau makan, semua peserta harus merasa tersiksa dulu. Setelah selesai makan maka ada pembagian peralatan makan yaitu sendok makan & gelas. Tidak cukup sampai disitu saja, sesudah makan kita belum bisa istirahat sampai adanya apel malam (mulainya jam 9) yang pastinya akan memakan waktu sekitar 1 jam

Malam Pertama

Sesudah apel malam, maka kita pun diperbolehkan tidur. Pada malam itu adalah tidur pertama yang paling sengsara dalam seumur hidupku. Tidur di dalam satu barak (terdiri dari 30 orang atau lebih), dengan kasur yang tipis dan lapuk diatas ranjang kayu yang keras dan papan penopangnya jarang-jarang. Dengan selimut yang tipis serta dekat dengan jendela yang mana angin malam bisa saja bertiup, di tengah dinginnya udara di Pangalengan, maka tidur pada malam hari adalah kegiatan yang menyiksa juga. Hari berikutnya adalah menyetor barang-barang yang tidak diperlukan selama kewiraan termasuk handphone. Maka lengkap sudah penderitaan ini, tidak ada handphone, tidak ada televisi, terputuslah hubungan dengan dunia luar. Bahkan Penulis sendiri tidak tahu kalo Steve Job sudah meninggal dunia. Hahahaha….

Upacara Pembukaan

Lapangan Hijau Secata Rindam III

Hari kedua sampai hari keempat, yang kami lakukan adalah mempersiapkan Upacara Pembukaan Susbintal BPS Pertamina di Secata Rindam III/Siliwangi sesekali diselingi acara dari Performind. Kegiatan kami sehari-hari adalah monoton, yaitu bangun sekitar jam 3.30 di pagi hari, mandi dan kemudian mengikuti sholat di masjid (yang Non-Muslim wajib menunggu di depan masjid), kemudian pembinaan fisik (binsik) pagi di Lapangan Kekerasan, kemudian makan pagi, dan latihan baris berbaris sepanjang hari. Semuanya harus dilakukan secara bersama-sama yaitu per peleton. Pada sore hari sekitar jam 5 kita waktunya pembersihan diri dan barak, jam 5.30 sore berkumpul kembali untuk sholat ke mesjid kemudian makan malam. Pada malam hari, ada kegiatan apel malam kemudian tidur sekitar jam 10 malam dengan kondisi yang sangat melelahkan. Eits jangan lupa sebelum tidur, perlengkapan buat besok kudu dipersiapkan, sepatu PDL harus disemir mengkilap.

Menu Makan di Secata Rindam III

Pada hari ke-empat, maka upacara pembukaan pun berlangsung. Inspektur Upacara adalah Panglima Kodam III Siliwangi, Mayor Jenderal TNI M. Munir dengan Komandan Upacara adalah Wakil Komandan Latihan (Wadanlat), Suryono (pangkatnya apa ya, maaf lupa pelatih, hehehe). Upacara ini juga dihadiri pimpinan PLC, dosen pembimbing dan beberapa perwira dari Kodam III.

Hari Minggu Pertama

Karena Penulis dan 32 peserta lainnya adalah beragama Kristen/Katolik, maka hari Minggu adalah hari perhentian dan kita harus ke rumah Tuhan. Setelah bernegosiasi panjang dengan Letda Lukas akhirnya kita mendapat izin untuk ke gereja di luar komplek Secata. Tapi dengan syarat, harus berbaris rapi dan tetap dengan seragam & sepatu PDL. Waduh??? Setelah turun lembah - naik bukit - menyebrang jalan, akhirnya kita sampai dan beribadah di Gereja Kristen Pasundan, Pangalengan. Hal ini tentu saja menarik perhatian jemaat lainnya, maka kami diminta untuk memberikan penjelasan yang diwakili oleh Penulis. Ada hal yang sangat menarik saat itu, yaitu karena kelelahan yang tiada tara selama 1 minggu, maka hampir semua dari kita, termasuk Letda Lukas tertidur pada saat khotbah. Hahaha, bahkan Penulis tidak menyadari kalo kantong persembahan sudah lewat dari hadapan saya. Hahahhahha……..Wwkwkwkkwk……..
Melihat dunia luar adalah suatu kebahagian tersendiri pada saat itu. Sepulangnya dari gereja, kita berpikir akan ada istirahat, tetapi ternyata tidak ada bedanya hari Minggu atau hari biasa, binsik lagi sebelum makan siang. Huhuhuhu…….

Minggu Kedua

Minggu kedua diisi dengan rangkaian kegiatan yang sangat membosankan dan melelahkan. Setiap hari ada materi kelas (baik pagi maupun siang hari) diselingi dengan kegiatan fisik (baik pagi, siang, ataupun malam hari). Akibatnya adalah mayoritas peserta tertidur saat mengikuti kegiatan kelas. Setiap hari juga ada ujian atas materi yang telah diterima sehari sebelumnya. Mencontek pada saat ujian adalah perbuatan yang sangat dilarang di sini. Akan tetapi, bekerja sama adalah perbuatan yang diperbolehkan. Lucu sekali, apa bedanya ya… sekalipun lelah sekali, Penulis tetap berusaha belajar dan membantu teman-teman pada saat ujian. Dan bahkan pada saat kegiatan belajar, sering sekali yang masih terbangun hanya Penulis dan beberapa teman saja (bisa dihitung dengan jari). Mengapa perlu ditegaskan disini mengenai kondisi ini? Pada akhir cerita ini akan Penulis jelaskan alasannya. Hehehehe…
Materi-materi yang kami terima antara lain Kewarganegaraan, Peraturan Penghormatan Militer (PPM), Peraturan Baris Berbaris (PBB), Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), Pengetahuan Dasar Pengamanan (Pengsarpam), Kepemimpinan, Survival, Tali-temali, dll. Beberapa diantaranya ada praktiknya. Kalau menurut Penulis sendiri sih, kebanyakan materi yang diberikan kurang menarik (terutama karena metode mengajar para guru militer dan kelelahan fisik para peserta) dan kurang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Pesiar & Minggu Ketiga

Sebelum memasuki minggu ketiga, para peserta diberikan kesempatan untuk pesiar ke Bandung yaitu pada hari Minggu, 02/10/2011, diangkut dengan truk militer dan seragam PDL. Hal yang pertama saya dan beberapa teman lakukan adalah ibadah, kita terbagi di dua tempat yaitu GII Dago dan Gereja Katedral Bandung. Sesudah itu yang kita lakukan adalah membeli perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan untuk latihan beregu karena hanya inilah kesempatan keluar dari lokasi. Hahahaha, mencium aroma kebebasan itu indah sekali, meskipun hanya sebentar. Kemudian kami diangkut kembali ke Secata.
Minggu Ketiga diisi dengan berbagai persiapan menghadapi Latihan Beregu, mulai dari pengetahuan membuat bivak/kemah, memasak dengan misting, membaca peta & kompas, latihan fisik sampai latihan mountaineering. Pada saat itu, puluhan teman-teman mulai jatuh sakit bertambah jumlahnya yang dimulai sejak minggu kedua dengan berbagai macam penyakit, kebanyakan adalah sakit batuk karena kekeringan yang melanda Pangalengan dan kita terpaksa menghirup debu setiap saat dan makanan yang kurang higienis. Penulis sendiri menderita batuk sejak minggu ketiga hingga 1 bulan kemudian sesudah kembali ke PLC yang membuat dada sakit banget. Selain itu, cacar air adalah penyakit yang menyebar luas juga pada saat itu. Dan pada minggu ketiga inilah titik kejenuhan tertinggi melanda para peserta susbintal semua. Namun bersyukur karena kegiatan di dalam kelas sudah tidak ada, sehingga kebanyakan adalah kegiatan fisik di lapangan untuk membentuk fisik yang kuat menghadapi latihan beregu di luar komplek secata.

Latihan Beregu

1st Day, Friday, 7th Oct 2011 : Long March/ HanMars

Latihan beregu dimulai pada hari Jumat, 7 Oktober 2011 di Lapangan Hijau Secata. Semua peserta dibagi dalam beberapa kelompok dengan nama-nama kelompok binatang, kelompok Penulis adalah Kelompok Gajah. Kita diberikan peta dan kompas kemudian yang sudah menemukan koordinat bisa bergerak maju. Dengan ransel militer untuk persediaan 4 hari berbivak mungkin seberat 10-15 kg di pundak, kita pun bergerak menuju target operasi sejauh ± 5 km dengan berjalan kaki. Perjalanan terus mendaki menuju Situ Pangalengan yang ada diatas perbukitan dan untuk mengusir kecapean, dongkol dihati, atau apapun namanya, Penulis menjadi radio berjalan agar teman-teman satu grup tetap semangat. Hasilnya pun sangat luar biasa, kelompok Penulis yang kloter ke-13 akhirnya tiba di tujuan sebagai kelompok ke-2 yang paling cepat sampainya. Kami mengalahkan 11 kelompok yang kloternya di depan kami. Wow…..!! Sesampainya disana, hal pertama yang kami lakukan adalah peregangan otot2, kemudian membangun bivak, memasak, kemudian apel malam dan tidur.

2nd Day, Saturday, 8th Oct 2011 : Menyeberang Danau & Caraka Malam 

Besoknya, pagi2 sekali kami harus sudah bangun, memasak dan membongkar bivak serta membersihkan sector bivak hingga tidak ada jejak sama sekali. Selama masak di Pangalengan ini, hal yang terjadi adalah nasi selalu setengah matang karena adanya miskomunikasi mengenai ketersediaan bahan bakar. Untungnya tidak sakit perut ya..
Kegiatan diawali dengan apel pagi, sesudah itu mengikuti briefing session dan mengambil perlengkapan untuk membuat rakit dari ban bekas untuk menyeberangi Situ Pangalengan. Sesudah rakit selesai dibuat, tibalah saatnya masing-masing tim meluncurkan rakit dan mendayung hingga ke seberang danau. Mungkin panjang lintasan ± 2 km. Setibanya diseberang, Penulis sebagai ketua grup merebut bendera dan kembali ke rakit untuk menyeberangi danau kembali. Cukup melelahkan, tapi seru sekali. Sebagai informasi, air di Situ Pangalengan sama sekali tidak jernih, tetapi kotor dan bau seperti air got. Hueks..…..
Sebelum kegiatan ini berakhir, kita semua sudah diguyur hujan deras sehingga kita semua basah kuyup. Akan tetapi penderitaan belum berakhir disitu saja, TIDAK ADA PERSEDIAAN AIR BERSIH untuk membilas badan. WTF!! Dan kamar mandi untuk berganti pakaian saja sempat dikunci sama pemilik karena tidak ada air sementara beberapa temen pergi buang air kesana. WTF2!! Dan tentu saja penderitaan terakhir adalah, malam ini akan ada CARAKA MALAM! So, tidak akan ada istirahat! WTF3!!
Caraka malam dimulai sekitar pukul 8 malam, Penulis dan tim adalah kloter ke-2 sehingga aura ngeri, seram dan mencekam belum terasa. Meskipun demikian salah satu temen Penulis menjerit pada saat dikagetkan ditengah semak-semak. Posko-posko yang harus dilewati adalah Posko Caraka (menghapalkan pesan/caraka yang akan kita sampaikan), Posko Racikan (mencium beberapa aroma bumbu dan menebaknya), Posko Rabaan (meraba ember dan menebak isinya), Posko Gangguan (melewati kuburan dan menandatangani kehadiran disana), dan Posko Laporan (menyampaikan pesan atau caraka yang kita bawa). Melewati kuburan itu adalah posko yang paling mengerikan, kuburan asli ditambah ada kemenyan yang dibakar dan dipasangi beberapa “potong” pocong, serta dikagetin oleh para pelatih. Setelah itu, kegiatan yang paling menyiksa adalah menunggu 45 tim berikutnya sampai di tujuan. Kita hanya duduk2 di lapangan terbuka yang tanahnya basah pasca hujan deras, kedinginan, kelelahan dan tidak bisa tertidur. Sekitar pukul 01 dini hari, akhirnya semua peserta sudah kembali ke tempat berkumpul. Apel malam dan kemudian peserta boleh tidur sekitar jam 02.30 dini hari.

3rd Day, Sunday, 9th Oct 2011 : Mountaineering

Penulis pada malam itu dapat giliran jaga malam, alhasil Penulis tidak bisa tidur. Akhirnya jam 4 pagi, Penulis langsung masak nasi membangun temen2 satu Peleton dan membongkar bivak. Akibat kelelahan yang sangat, peleton lainnya belum ada yang bangun pedahal sudah jam 5.30. Hal ini membuat para Pelatih marah besar, akhirnya semua pelatih mendatangi lokasi bivak membawa senjata M-16. Senjata pun ditembakkan ke udara berkali-kali untuk membangunkan kita semua.
Sesudah apel pagi, perjalanan selanjutnya adalah the real mountaineering. Berkumpul di area Situ Pangalengan, menunggu giliran, kemudian berangkat menyusuri sungai. Tantangan pertama adalah Naik Togel. Berikutnya adalah P3K. Selanjutnya adalah Jaring Mendarat, kemudian dilanjutkan dengan Turun Hesti, melewati Jembatan Tali Dua, dan terakhir adalah Meluncur dengan tali dari ketinggian. Semuanya bisa dilewati dengan mudah, tidak sesulit yang dibayangkan.
Sore harinya membangun bivak dan ini adalah salah satu penderitaan terhebat juga. Peleton Penulis mendapat lokasi bivak yang paling tidak ideal. Lahannya miring dan ditumbuhi semak-semak lebat. Akhirnya setelah membangun bivak, Penulis dan temen satu bivak (Malik & Faisal) menaburkan garam dalam jumlah besar di sekeliling bivak, mencegah masuknya aneka jenis binatang ke bivak. Tidak cukup sampai disana, lahan yang miring membuat kita tidak bisa tidur sama sekali.

Malam Renungan

Kelelahan mountaineering seharian ditambah bivak yang tidak nyaman ternyata belum cukup. Sekitar pukul 11.30 malam, saat semua sudah mulai lelap karena sejak pukul 9 malam sudah tidak diperbolehkan ada cahaya dari lokasi bivak, kita dikagetkan dengan suara ledakan bom disusul bunyi rentetan senjata. Benar-benar seperti lagi perang. Ini pertanda bahaya! Semua harus keluar dari bivak dan tiarap. Setelah tiarap kita disuruh merangkak, berguling, berlari hingga ke area yang ditentukan. Setelah itu, lilin yang sudah kita bawa kalau ada tanda bahaya, dinyalakan, kemudian kita mendengarkan wejangan2 atau renungan yang menurut Penulis hanya beberapa dari peserta yang masih ingat apa isi renungan tersebut. Maklum saja, kita kelelahan luar biasa, sejak 3 hari terakhir, belum pernah mandi sejak 3 hari terakhir, bahkan lebih parah, ada yang belum pernah buang air besar sama sekali (tidak mau dengan cara “dolbon” alias “dodol kebon”). Wkwkwkw…..hahahaha…...pasti bingung kan dengan dolbon. Sekitar lewat jam 2 pagi, mungkin, akhirnya kita kembali ke bivak dan tidur sejenak.

4th Day, 10th Oct 2011: Long March/Hanmars

Bangun seperti jam biasa, dan siap-siap untuk perjalanan pulang sejauh ± 7 km, disebut hanmars. Berbaris sesuai peleton dan diberangkatkan untuk dinilai kecepatan masing2 peserta sampai ditujuan. Kebetulan salah satu teman peleton saya (Mas Warih), kakinya sakit akibat kewiraan, jadinya saya berjanji akan menemaninya sepanjang perjalanan sekalipun akan tiba sebagai peserta terakhir (so sweet…). Saya mulai bosan dengan kewiraan, jadi hanmars kali ini ingin saya nikmati saja, bukan mengejar nilai.
Masalah terjadi ketika di pos ketiga kita dikumpulkan untuk mendapat logistic dan ketika dihitung, ada 3 temen kami yang menghilang. Setelah ditunggu tidak muncul2 juga, akhirnya dicari dan dijemput dengan motor. Akibat kelalaian 3 teman kami yg tidak melapor ketika beristirahat di suatu tempat yang tidak diperbolehkan, perjalanan sempat kacau.

Minggu Keempat & Upacara Penutupan

Senjata M-16

Minggu keempat diisi dengan persiapan upacara penutupan Susbintal BPS Pertamina 2011. Loading latihan sudah sangat berkurang karena masing-masing peserta harus focus mengikuti latihan keterampilan. Adapun keterampilan yang akan ditampilkan adalah Kolone Senjata, Bongkar Pasang Senjata, Bongkar Pasang Tenda (disini Penulis ikut terlibat), P3K, meluncur dari ketinggian, Pertarungan Bebas dan Seni Bela Diri “Yong Modo”, dll.

Penulis dengan Latar Belakang tenda

Pada saat latihan ini, Tim Penulis di bongkar pasang tenda sering mengalami runtuh motivasi. Akan tetapi, pada saat upacara penutupan, Sabtu 15 Oktober 2011, tim tenda bekerja dengan baik. Malam sebelum perpisahan, rapor kita dibagikan. And guess what??? Penulis mendapat peringkat 213 dari 392 peserta, WTF!!! Ini adalah peringkat terburuk sepanjang hidup Penulis dan saya merasa sudah cukup berusaha selama kewiraan baik selama belajar di kelas maupun di lapangan. Temen-temen satu peleton sama Penulis tidak percaya, but this is real!! Tapi sudahlah, kan motto disini: “Don’t complain!!” Complain hanya dapat diterima 10 hari kemudian!! WTH!!

Bersama Para Pelatih

Upacara penutupan dilakukan secara militer (ya iyalah, kita kan dilatih dan berada di lokasi militer). Semuanya berjalan dengan baik dan para hadirin berdecak kagum saat peserta Susbintal memamerkan keterampilan yang sudah dilatih. Sesudah upacara penutupan, senyum merekah luar biasa di wajah para peserta bahkan ketika diharuskan menampilkan yel yel, semangat yang ditampilkan luar biasa sekali (namanya juga udah mau pulang). Kita kemudian makan siang dan mendapat pengarahan sesudah itu, ACARA HIBURAN! Hiburannya apa?? DANGDUT IS MUSIC MY COUNTRY!! Yeah….!! Seakan semuanya sudah tersihir, tidak ada lagi pembedaan antara para pelatih dan peserta, kami semua bergoyang ria dengan sangat dahsyatnya. Kemudian ditutup dengan cara foto bersama, packing barang dan go home (coz di PLC feels like home).

Makna Kewiraan Bagi Saya:
1. Belajar Hidup Disiplin
2. Belajar Bersyukur atas Segala Hal
3. Belajar Korsa (Kebersamaan)
4. Belajar Berjuang
4. Menghargai TNI sebagai garda terdepan pelindung NKRI


3 comments:

stillgie said...

Kewiraannya sebulan ya kak? cewek juga ada?

Kardoman Tumangger said...

Iya, sebulan atau tepatnya 27 hari. Cowo ato cewe sama saja, yang cewe dilatih sama KOWAD (Komando Wanita AD)..

Anonymous said...

mau tanya kapan saatnya para siswa itu di siksa?